kebidanan.umsida.ac.id –Berawal dari keinginan mengembangkan kemampuan desain, Anggie Erianti, alumni Program Studi S1 Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), berhasil meraih Juara 1 kategori Poster Competition dalam ajang The 5th BGSC International Competition 2024.
Prestasi tersebut turut mengantarkan Anggie memperoleh pengakuan sebagai wisudawan berprestasi Umsida. Keberhasilannya menjadi bukti bahwa mahasiswa kebidanan tidak hanya mampu mengembangkan kompetensi kesehatan, tetapi juga keterampilan komunikasi visual.
Bagi Anggie, kemampuan menyampaikan informasi kesehatan melalui desain poster menjadi keterampilan penting agar pesan edukasi dapat dipahami masyarakat dengan lebih mudah.
Berawal dari Coba-Coba, Anggie Tekuni Desain Poster Sejak Semester Awal
Ketertarikan Anggie terhadap dunia desain bermula ketika dirinya mencoba mengikuti kompetisi poster pada awal perkuliahan.
Seiring waktu, ia mulai mempelajari berbagai teknik desain menggunakan Canva serta mencari referensi melalui media sosial, termasuk TikTok, untuk menghasilkan poster yang menarik.
“Awalnya saya coba-coba untuk ikut lomba poster. Lalu semakin hari saya menekuni Canva dan mencoba berbagai tips di TikTok tentang bagaimana membuat poster yang bagus dan eye-catching,” ungkap Anggie.
Ia terus mengasah kemampuannya dengan mengikuti berbagai kompetisi sejak semester satu hingga semester tujuh.
Menurutnya, pengalaman mengikuti perlombaan membantu meningkatkan kualitas karya, baik dari segi materi, visual, maupun penyampaian informasi.
Anggie memilih bidang poster karena menyadari pentingnya komunikasi visual dalam pelayanan kebidanan.
“Saya ingin menyampaikan informasi dengan baik, dikemas secara visual yang bagus, dan dapat mudah dipahami oleh pasien,” jelasnya.
Baginya, tenaga kesehatan perlu memiliki kemampuan menyampaikan edukasi secara sederhana agar informasi yang diberikan tidak hanya menarik, tetapi juga bermanfaat.
Manajemen Waktu Jadi Tantangan Meraih Prestasi Internasional
Di balik keberhasilannya, Anggie mengaku harus menghadapi berbagai tantangan selama mempersiapkan kompetisi.
Padatnya jadwal praktikum kebidanan, tugas perkuliahan, organisasi, hingga penyusunan skripsi membuatnya harus mampu membagi waktu secara efektif.
“Memang banyak sekali tantangannya. Maka saya harus benar-benar mengatur waktu, bagaimana saat belajar untuk ujian, berorganisasi, hingga meluangkan waktu bersama teman,” tuturnya.
Proses pembuatan poster biasanya dilakukan secara mandiri di rumah. Ia memanfaatkan waktu luang untuk berlatih dan mengeksplorasi berbagai konsep desain.
Selain keterbatasan waktu, kondisi suasana hati juga menjadi tantangan karena dapat memengaruhi kreativitasnya dalam menentukan warna, komposisi, dan tampilan poster.
Meski demikian, Anggie terus berusaha menyelesaikan karya dengan maksimal.
Ia juga mendapatkan dukungan dari dosen Kebidanan, bidang kemahasiswaan, teman, serta keluarga yang senantiasa memberikan motivasi.
“Dosen-dosen dan kemahasiswaan selalu memberikan dukungan penuh. Bahkan, ketika ada revisi, saya meminta masukan terkait materi maupun tampilan poster agar hasilnya lebih baik,” ujarnya.
Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantunya terus berkembang hingga berhasil meraih prestasi internasional.
Prestasi Jadi Motivasi Kembangkan Keterampilan di Luar Bidang Kesehatan
Keberhasilan meraih Juara 1 memberikan kebanggaan tersendiri bagi Anggie. Ia mengaku tidak menyangka ketertarikannya terhadap desain poster dapat membawanya meraih prestasi internasional.
“Saya sangat bersyukur karena tidak menyangka akan menekuni prestasi di bidang infografis kesehatan. Saya juga bersyukur karya yang saya buat bisa bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.
Anggie berharap pengalamannya dapat memotivasi mahasiswa lain untuk berani mencoba berbagai kesempatan dan mengembangkan keterampilan di luar bidang akademik utama.
Menurutnya, mahasiswa kesehatan perlu memiliki kemampuan tambahan yang dapat menunjang profesi sekaligus memperluas peluang pengembangan diri.
“Jangan pernah takut untuk mencoba sesuatu karena kita tidak tahu apakah di kemudian hari akan berhasil atau tidak,” pesannya.
Ia juga mengajak mahasiswa FIKP Umsida untuk terus mengembangkan keterampilan dan memperluas relasi.
“Jangan hanya berfokus pada bidang kesehatan, tetapi kembangkan juga soft skill kalian supaya memiliki lebih banyak kemampuan,” pungkasnya.
Penulis: Nabila Wulyandini

























