Komplikasi Kehamilan Kembar yang Perlu Diwaspadai Sejak Dini

Kebidanan.umsida.ac.id – Kehamilan kembar sering kali membawa kebahagiaan tersendiri bagi calon orang tua. Namun, di balik itu, kondisi ini juga memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan kehamilan tunggal.

Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil untuk memahami berbagai potensi risiko agar dapat melakukan pencegahan sejak dini.

Mengutip laman Halodoc, “kehamilan kembar memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi, baik bagi ibu maupun janin, sehingga memerlukan pemantauan lebih intensif.”

Cek Selengkapnya: Ibu Hamil Wajib Tahu, Ini Manfaat Asam Folat untuk Janin

Dengan pemahaman yang baik, ibu hamil dapat lebih siap menjaga kesehatan diri dan janin selama masa kehamilan.

Risiko pada Ibu Hamil Kembar

Salah satu komplikasi yang cukup sering terjadi adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Risiko ini meningkat karena tubuh ibu harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan dua janin sekaligus.

Selain itu, ibu hamil kembar juga lebih rentan mengalami diabetes gestasional, yaitu kondisi ketika kadar gula darah meningkat selama kehamilan.

Dijelaskan bahwa “ibu dengan kehamilan kembar memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi dan diabetes gestasional dibandingkan kehamilan tunggal.”

Kondisi ini perlu dipantau secara rutin karena dapat berdampak pada kesehatan ibu maupun perkembangan janin jika tidak ditangani dengan baik.

Lihat Juga: Laboran Kebidanan Umsida Tunjukkan Inovasinya di Ajang Nasional KILab 2025

Risiko pada Janin, dari Prematur hingga Cacat Lahir
Sumber: Pexels

Bayi kembar memiliki risiko lebih tinggi untuk lahir prematur, yaitu sebelum usia kehamilan 37 minggu. Kondisi ini dapat menyebabkan bayi memiliki berat badan lahir rendah dan membutuhkan perawatan khusus setelah lahir.

Selain itu, bayi kembar juga berisiko mengalami kelainan bawaan, seperti gangguan pada jantung atau sistem saraf.

Salah satu komplikasi khusus pada kehamilan kembar identik adalah Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS), yaitu ketidakseimbangan aliran darah antara dua janin yang berbagi plasenta.

“Kehamilan kembar meningkatkan risiko kelahiran prematur serta berbagai komplikasi pada bayi, termasuk gangguan perkembangan,” tulis Halodoc.
Baca Juga: Kram Kaki pada Trimester III, Keluhan Normal atau Tanda Gangguan Sirkulasi?

Pentingnya Pemantauan dan Perawatan Rutin

Meski memiliki risiko yang lebih tinggi, kehamilan kembar tetap dapat berjalan dengan baik jika mendapatkan pemantauan yang tepat.

Pemeriksaan rutin ke dokter kandungan menjadi hal yang sangat penting untuk mendeteksi potensi komplikasi sejak dini. Selain itu, ibu juga perlu menjaga pola makan sehat, istirahat cukup, serta menghindari aktivitas berlebihan.

Dokter juga menyarankan bahwa “pemantauan rutin selama kehamilan kembar sangat penting untuk mencegah dan menangani komplikasi sejak dini.”

Dengan perawatan yang optimal, banyak ibu hamil kembar yang berhasil menjalani kehamilan hingga persalinan dengan kondisi yang sehat. Oleh karena itu, kesadaran dan kewaspadaan menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi selama kehamilan kembar.

Sumber: Laman Halodoc

Referensi:
BMC Pregnancy and Childbirth. Diakses pada 2022. Women with multiple gestations have an increased risk of development of hypertension in the future
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2022. Complications of Multiple Pregnancy.
Very Well Family. Diakses pada 2022. Twin Pregnancy Risks and Prematurity.

Penulis: Elfira Armilia

Bertita Terkini

Pelantikan Bidan Umsida 2026, 10 Lulusan Resmi Sandang Gelar Bidan Profesional
June 15, 2026By
Kupas Tuntas Baby Blues hingga Depresi Saat SPINA 2026
May 4, 2026By
Latih Kompetensi Klinis, FIKES Umsida Gelar OSCE untuk Mahasiswa S1 Kebidanan
February 1, 2026By
Ketua IBI Jatim Tekankan Etika Profesi pada Sumpah Profesi FIKES Umsida
December 18, 2025By
Umsida Bekali Mahasiswa Kebidanan dengan Praktik Pemeriksaan EKG di Rumah Sakit
November 23, 2025By
pembekalan
Siapkan Mahasiswa Profesi Bidan dengan Pembekalan Intensif dan Hybrid Learning
September 29, 2025By
kader posyandu
Kolaborasi ITS dan Umsida Perkuat Peran Kader Posyandu sebagai Garda Terdepan Kesehatan Anak
September 25, 2025By
nyeri postpartum
Manajemen Nyeri Postpartum Lebih Efektif Berkat Health Science Seminar Fikes Umsida
August 30, 2025By

Prestasi

Mahasiswi Kebidanan Umsida Raih Juara 2 UPSCC
March 16, 2026By
Firna Mahasiswa Kebidanan Umsida, Sabet Juara 2 Taekwondo KBPP POLRI Jatim Cup 3
February 23, 2026By
Mahasiswa Kebidanan Umsida Raih Juara 2 Taekwondo KBPP POLRI Jatim Cup 3
February 16, 2026By
Aktif Organisasi dan Bekerja, Naziyah Cahya Pratiwi Ini Jadi Lulusan Terbaik
February 9, 2026By
Yuyun Rahma Putri, Ibu Muda yang Menjadi Lulusan Terbaik Profesi Kebidanan Umsida
January 23, 2026By
Cerita di Balik Prestasi Nela Akhmalia, Lulusan Terbaik Kebidanan Umsida
January 12, 2026By
Inovasi Mannequin Akupresur Kebidanan Umsida Menjadi Sorotan di KILab 2025
December 9, 2025By
peneliti
Dua Dosen Kebidanan Umsida Raih Nominasi Peneliti Terbaik Hibah Internal 2024–2025
September 19, 2025By

Riset dan Inovasi

Perawatan Herbal Bisa Jadi Alternatif Atasi Jerawat
June 29, 2026By
Kram Kaki pada Trimester III, Keluhan Normal atau Tanda Gangguan Sirkulasi?
June 22, 2026By
Riset Kebidanan Umsida Ungkap Sering Nyeri Haid,Bisa Jadi karena Anemia
June 8, 2026By
Riset Dosen Kebidanan Umsida Ungkap Peran Usia dalam Keberhasilan Laktasi
June 1, 2026By
Pendidikan Ibu Jadi Faktor Penting dalam Mencegah Stunting pada Anak
May 18, 2026By
Faktor yang Mempengaruhi Kehamilan, Ternyata Bukan Cuma Soal Fisik
April 13, 2026By
Riset Umsida Ungkap Dampak Psikologis Beban Ibu Saat Anak Mengidap TB
March 30, 2026By
Perawatan Luka Persalinan Secara Herbal: Riset Ungkap Manfaat Daun Binahong
March 9, 2026By