Kebidanan.umsida.ac.id – Kram kaki pada trimester ketiga sering dianggap sebagai keluhan biasa dalam kehamilan. Namun, benarkah kondisi ini sepenuhnya fisiologis? Atau justru menjadi sinyal adanya gangguan sirkulasi yang perlu diwaspadai?.
Sebuah studi kasus berjudul Management of Pregnant Women with Leg Cramps in Maternity Hospital yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Innovation Studies mengulas secara komprehensif tentang fenomena ini.
Penelitian tersebut dilakukan oleh mahasiswa Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida) Alda Rena Rumanis.
Bersama Cholifah SST MKes dan Paramitha Amelia Kusumawardani SST MKeb. Hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 43,8% ibu hamil sering mengeluhkan kram kaki, terutama pada trimester III .
Beban Kehamilan dan Gangguan Sirkulasi

Memasuki trimester ketiga, ukuran rahim yang semakin membesar membuat beban tubuh ibu meningkat. Kondisi ini menyebabkan perubahan postur, cepat lelah, serta kecenderungan untuk duduk atau berdiri dalam waktu lama.
Studi tersebut menjelaskan bahwa posisi tubuh yang menetap dapat menghambat sirkulasi darah di tungkai bawah .
Baca Selengkapnya: Dukung Kesehatan Ibu Hamil, KKN-T 5 Umsida buat Kelas Hamil
Sirkulasi yang tidak lancar berpotensi memicu kekurangan suplai oksigen ke otot, sehingga muncul rasa nyeri dan kram.
Selain itu, faktor lain seperti ketidakseimbangan fosfor dan kalsium, peningkatan tekanan uterus terhadap saraf, serta kelelahan turut menjadi pemicu .
Pada kasus yang diteliti, seorang ibu hamil usia 37 minggu mengalami kram kaki setelah beraktivitas lama dalam posisi duduk atau berdiri. Keluhan mereda setelah beristirahat, menandakan sifatnya masih fisiologis.
Namun, kondisi ini tidak boleh diabaikan begitu saja.
Fisiologis, Tapi Tetap Perlu Edukasi
Secara umum, kram kaki pada trimester III termasuk keluhan fisiologis. Akan tetapi, penelitian ini menegaskan pentingnya edukasi kebidanan untuk mencegah komplikasi .
Penatalaksanaan yang dianjurkan meliputi latihan dorsofleksi untuk meregangkan otot, menghindari posisi tubuh yang sama terlalu lama, serta menjaga kecukupan nutrisi dan konsumsi tablet Fe.
Edukasi sederhana ini terbukti membantu ibu memahami penyebab dan cara mengatasi keluhan.
Lihat Juga: Riset Dosen Kebidanan Umsida Ungkap Peran Usia dalam Keberhasilan Laktasi
Lebih jauh, tenaga kesehatan juga harus menjelaskan tanda bahaya seperti kalor, dolor, dan rubor yang dapat mengarah pada tromboflebitis, yaitu peradangan vena akibat bekuan darah . Jika gejala tersebut muncul, maka kram bukan lagi sekadar keluhan fisiologis.
Antara Normal dan Perlu Diwaspadai
Kehamilan memang membawa banyak perubahan fisiologis. Kram kaki bisa menjadi bagian dari proses adaptasi tubuh. Namun, ketika disertai nyeri hebat berkepanjangan, pembengkakan, atau tanda peradangan, maka kondisi ini perlu evaluasi lebih lanjut.
Riset ini menegaskan bahwa pendekatan promotif dan preventif sangat penting dalam pelayanan kebidanan. Edukasi yang tepat bukan hanya meredakan keluhan, tetapi juga mencegah risiko gangguan sirkulasi yang lebih serius.
Baca Juga: KB Implan, Cara Praktis Menjaga Jarak Kehamilan Tetap Ideal
Pada akhirnya, kram kaki trimester III memang bisa bersifat fisiologis. Namun, kesadaran dan edukasi menjadi kunci agar ibu hamil mampu membedakan mana keluhan normal dan mana yang perlu diwaspadai.
Kehamilan yang sehat bukan hanya tentang janin yang tumbuh baik, tetapi juga kenyamanan dan keamanan ibu sepanjang prosesnya.
Sumber: Riset Mahasiswa Kebidanan
Penulis: Elfira Armilia

























