Kebidanan.umsida.ac.id – Media sosial kerap menghadirkan beragam konten pengasuhan yang viral, termasuk video ibu muda yang mengajak bayi usia satu bulan ke playground atau aktivitas publik lainnya.
Konten semacam ini memang terlihat menarik, namun belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan bayi.
Menanggapi fenomena tersebut, dosen Kebidanan Umsida, Evi Rinata SST MKeb, menegaskan pentingnya pemahaman orang tua terhadap tahapan tumbuh kembang bayi sejak usia dini.
Baca Juga: Afirmasi Positif Bantu Cegah Preeklamsia pada Ibu Hamil
Menurutnya, bayi usia 0–1 bulan masih berada pada fase adaptasi awal kehidupan di luar rahim.
Pada tahap ini, bayi belum siap untuk menerima stimulasi lingkungan yang kompleks.
Seperti playground yang sejatinya diperuntukkan bagi anak dengan perkembangan motorik dan sensorik yang lebih matang.
Bayi yang Belum Siap Terpapar Lingkungan Publik

Dari sudut pandang kebidanan, Evi menjelaskan bahwa aktivitas di luar rumah yang tidak sesuai usia justru berpotensi menimbulkan overstimulasi.
Bayi neonatus belum memiliki kontrol otot leher yang stabil, sistem saraf yang matang, maupun daya tahan tubuh yang kuat.
“Ketika orang tua memaksakan aktivitas yang belum sesuai tahap perkembangan, itu bukan stimulasi positif, melainkan bisa menjadi beban bagi tubuh bayi,” jelasnya.
Cek Selengkapnya: Laboran Kebidanan Umsida Tunjukkan Inovasinya di Ajang Nasional KILab 2025
Ia menambahkan, lingkungan publik seperti playground memiliki risiko paparan kuman yang tinggi.
Sistem imun bayi yang masih imatur membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi, gangguan tidur, hingga stres fisiologis akibat kelelahan dan perubahan suhu lingkungan.
Dampak Jangka Panjang Pola Asuh yang Tidak Tepat
Lebih jauh, Evi menekankan bahwa pola pengasuhan di usia dini memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan neurologis dan psikologis anak.
Masa awal kehidupan dikenal sebagai golden period, yaitu fase krusial bagi perkembangan otak.
Stimulasi yang tidak tepat, baik terlalu berlebihan maupun tidak sesuai usia, dapat memengaruhi regulasi emosi, respons stres, hingga pola kelekatan antara bayi dan orang tua.
Bayi yang sering berada dalam kondisi tidak nyaman berisiko mengalami gangguan rasa aman yang berdampak pada perilaku di kemudian hari.
“Yang dibutuhkan bayi bukan aktivitas ramai, tapi rasa aman, sentuhan, nutrisi, dan tidur yang cukup,” tegasnya.
Cek Juga: 3 Tips Masuk Kuliah Kebidanan agar Bisa Menjadi Bidan Profesional
Peran Edukasi Tenaga Kesehatan

Dalam menghadapi derasnya arus informasi di media sosial, Evi menilai tenaga kesehatan memiliki peran strategis untuk meluruskan pola pengasuhan yang keliru.
Edukasi kebidanan perlu dilakukan secara preventif melalui konseling kehamilan dan masa nifas, sekaligus responsif terhadap isu viral yang berkembang di masyarakat.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan konten viral sebagai acuan utama dalam merawat bayi.
“Tidak semua yang terlihat menarik di media sosial itu baik dan aman untuk bayi,” ujarnya.
Orang tua diharapkan lebih kritis, mengutamakan rujukan ilmiah dan tenaga kesehatan, serta fokus memenuhi kebutuhan dasar bayi sesuai usianya.
Dengan pengasuhan yang tepat, tumbuh kembang bayi dapat berjalan optimal tanpa terpengaruh tren digital yang belum tentu benar.
Penulis: Elfira Armilia























