Kebidanan.umsida.ac.id – Keberhasilan pemberian ASI tidak hanya ditentukan oleh teknik menyusui atau intervensi klinis semata.
Faktor biologis dan pengalaman ibu turut memainkan peran penting dalam proses laktasi.
Hal ini terlihat dalam penelitian tentang efektivitas pijat oksitosin terhadap produksi ASI yang dilakukan oleh Sri Mukhodim Faridah Hanum, SST MM MKes.
Cek Juga: Laboran Kebidanan Umsida Tunjukkan Inovasinya di Ajang Nasional KILab 2025
dan Timnya beranggotakan Yanik Purwanti, S ST MKeb dan Ike Rohmah Khumairoh dari Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida) .
Dalam riset tersebut menemukan bahwa usia dan paritas ibu menjadi faktor pendukung keberhasilan produksi ASI.
Usia Reproduktif Ideal dan Produksi ASI

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada rentang usia 20–35 tahun (92,5%).
Rentang usia ini dikenal sebagai masa reproduktif ideal, di mana kematangan fisik dan hormonal berada pada kondisi optimal untuk mendukung proses laktasi.
Secara fisiologis, produksi ASI dipengaruhi oleh hormon prolaktin dan oksitosin. Pada usia reproduktif sehat, keseimbangan hormon lebih stabil dibandingkan ibu dengan usia terlalu muda atau terlalu tua.
Literatur yang dikutip dalam penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa ibu berusia sangat muda cenderung belum memiliki kematangan biologis yang optimal, sedangkan pada usia di atas 35 tahun produksi ASI dapat mengalami penurunan.
Temuan ini menegaskan bahwa kesiapan biologis ibu menjadi fondasi penting dalam keberhasilan menyusui.
Paritas dan Pengalaman Menyusui
Selain usia, paritas atau pengalaman melahirkan juga berperan signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa 70% responden merupakan multipara, yakni ibu yang telah melahirkan lebih dari satu kali.
Baca Juga: Olahraga Teratur Terbukti Efektif Mengurangi Dismenorea pada Remaja Putri
Pengalaman menyusui sebelumnya membantu ibu lebih percaya diri dan memahami teknik yang benar.
Ibu primipara, yang baru pertama kali melahirkan, sering kali menghadapi kecemasan dan ketidakpastian dalam proses menyusui. Sementara itu, ibu multipara cenderung lebih siap secara psikologis dan teknis.
Kesiapan mental dan pengalaman ini menjadi faktor pendukung kelancaran laktasi, bahkan sebelum intervensi seperti pijat oksitosin dilakukan.
Faktor Biologis dan Dukungan Klinis
Penelitian Sri Mukhodim Faridah Hanum dan tim tidak hanya menyoroti intervensi pijat oksitosin sebagai solusi, tetapi juga menunjukkan bahwa keberhasilan produksi ASI merupakan hasil integrasi antara faktor biologis dan dukungan klinis.
Usia reproduktif ideal dan pengalaman menyusui memberikan dasar yang kuat, sementara intervensi kebidanan membantu mengoptimalkan proses tersebut.
Cek Selengkapnya: Antusiasme Remaja Menghidupkan Kembali Posyandu Remaja di Desa
Dengan memahami faktor-faktor ini, tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi yang lebih tepat sasaran kepada ibu postpartum.
Pada akhirnya, keberhasilan laktasi bukan sekadar soal teknik, melainkan tentang kesiapan tubuh, pengalaman, dan dukungan yang tepat pada masa awal kehidupan bayi.
Sumber: Sri Mukhodim Faridah Hanum, SST MM MKes.
Penulis: Elfira Armilia.

























