kebidanan.umsida.ac.id – Pelantikan dan pengambilan sumpah profesi menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Nela Akhmalia.
Mahasiswi Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) ini berhasil meraih predikat lulusan terbaik.
Sebuah pencapaian yang lahir dari proses panjang, konsistensi dan komitmen tinggi dalam menempuh pendidikan.
Selama menjalani perkuliahan, Nela merasakan atmosfer akademik yang mendukung, terutama bagi mahasiswa alih jenjang.
Sistem pembelajaran yang fleksibel menurutnya menjadi keunggulan tersendiri, karena mampu mengakomodasi mahasiswa yang telah bekerja dan berkeluarga.
Fleksibilitas ini membuat Nela tetap dapat menjalankan perannya secara seimbang tanpa harus mengorbankan kualitas belajar.
“Umsida sangat fleksibel, terutama untuk mahasiswa yang sudah bekerja dan berumah tangga seperti saya,” ungkap Nela.
Konsistensi Belajar di Tengah Tanggung Jawab di Rumah

Di tengah padatnya aktivitas, Nela memilih untuk tidak aktif dalam organisasi kemahasiswaan.
Namun, keputusan tersebut tidak mengurangi keseriusannya dalam mengikuti perkuliahan dan praktik lapangan. Ia menilai dukungan kampus dalam menyediakan lahan praktik yang ramah bagi mahasiswa alih jenjang sangat membantu proses belajarnya.
“Kami tetap bisa mengatur jadwal antara jam kerja dan praktik dengan lebih mudah,” ujarnya.
Menjaga fokus hingga lulus dengan predikat terbaik tentu bukan perkara mudah. Menurut Nela, kunci utamanya adalah dukungan keluarga, lingkungan kerja yang saling memahami, serta kedisiplinan dalam mengelola waktu.
Baca Selengkapnya: Sumpah Profesi ke-XIV FIKES Umsida, 60 Lulusan Miliki Identitas Profesi dalam Diri Masing-Masing
Ia menyadari bahwa ada banyak momen bersama keluarga yang harus dikorbankan demi tanggung jawab akademik, namun semua itu dijalani dengan penuh kesadaran.
“Ketekunan, disiplin, dan siap kehilangan waktu bersama keluarga itu bagian dari proses,” tuturnya.
Makna Lulusan Terbaik dan Pesan Penuh Harapan

Predikat lulusan terbaik menjadi kejutan manis bagi Nela. Ia mengaku tidak pernah menargetkan capaian tersebut sejak awal, namun merasa sangat bersyukur karena seluruh usaha dan pengorbanan akhirnya membuahkan hasil.
“Senang sekali, karena banyak hal yang sudah dikorbankan dan diperjuangkan,” katanya.
Lihat Juga: Ketua IBI Jatim Tekankan Etika Profesi pada Sumpah Profesi FIKES Umsida
Ke depan, Nela berencana tetap melanjutkan karier di dunia kerja sekaligus mewujudkan impiannya membuka praktik mandiri di rumah. Ia ingin terus berkembang dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Menutup ceritanya, Nela menyampaikan pesan inspiratif bagi mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan studi. Ia percaya bahwa setiap proses memiliki nilai, selama dijalani dengan kesungguhan.
“Tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Apa yang hari ini terasa berat, suatu saat akan jadi cerita yang layak disyukuri,” pungkasnya.
Penulis: Elfira Armilia
























