Pendidikan Ibu Jadi Faktor Penting dalam Mencegah Stunting pada Anak

Kebidanan.umsida.ac.id – Stunting masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia.

Kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis ini tidak hanya menyebabkan tubuh anak lebih pendek dibanding usianya.

Tetapi juga berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga kesehatan jangka panjang.

Di balik banyaknya faktor penyebab stunting, pendidikan ibu ternyata menjadi salah satu hal penting yang berpengaruh dalam upaya pencegahannya.

Riset dilakukan oleh mahasiswa dan dosen Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida), tentang hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada anak usia 6–59 bulan.

Lihat Juga: Laboran Kebidanan Umsida Tunjukkan Inovasinya di Ajang Nasional KILab 2025

Pendidikan Membantu Ibu Memahami Pentingnya Gizi Anak

Dalam penelitian tersebut, mayoritas responden merupakan ibu dengan tingkat pendidikan menengah atau SMA/SMK sebesar 51,9 persen .

Penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap kemampuan menerima dan memahami informasi kesehatan, khususnya terkait pemberian ASI eksklusif dan pemenuhan gizi anak.

Ibu dengan pendidikan yang lebih baik cenderung memiliki pemahaman lebih luas mengenai pentingnya ASI eksklusif, pola makan sehat, hingga cara mencegah stunting sejak dini .

Baca Juga: Sulit Tidur hingga Overthinking Jadi Gejala Umum Postpartum Anxiety

Pengetahuan tersebut kemudian memengaruhi pola asuh dan keputusan ibu dalam merawat anak.

Sebaliknya, kurangnya edukasi sering membuat ibu lebih mudah percaya pada mitos atau informasi yang kurang tepat terkait pemberian makanan tambahan pada bayi sebelum usia enam bulan.

Stunting Tidak Hanya Soal Tubuh Pendek

Banyak masyarakat masih menganggap stunting hanya sebatas kondisi tubuh anak yang lebih pendek. Padahal dampaknya jauh lebih luas.

Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa stunting dapat memengaruhi perkembangan kognitif, motorik, hingga meningkatkan risiko penyakit tidak menular saat dewasa .

Anak yang mengalami stunting juga lebih rentan terkena infeksi karena daya tahan tubuhnya lebih lemah. Kondisi ini membuat pertumbuhan anak semakin terganggu dan berdampak pada kualitas hidupnya di masa depan.

Lihat Juga: 

Penelitian juga menemukan bahwa anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko stunting lebih tinggi dibandingkan anak yang memperoleh ASI eksklusif . Karena itu, pemahaman ibu mengenai pentingnya ASI menjadi bagian penting dalam pencegahan stunting.

Edukasi Ibu Jadi Investasi Masa Depan Anak
Edukasi gizi
Sumber: AI

Riset ini menunjukkan bahwa upaya menurunkan angka stunting tidak cukup hanya melalui bantuan makanan tambahan atau intervensi kesehatan semata. Edukasi kepada ibu juga menjadi langkah penting yang perlu diperkuat.

Pengetahuan ibu tentang gizi, kesehatan anak, dan pola menyusui yang tepat dapat membantu menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang lebih baik bagi anak. Semakin baik pemahaman ibu, semakin besar peluang anak terhindar dari masalah gizi kronis.

Melalui penelitian ini, berharap edukasi mengenai ASI eksklusif dan pencegahan stunting dapat terus ditingkatkan, terutama pada ibu muda dan masyarakat dengan akses informasi kesehatan yang masih terbatas.

Sebab pada akhirnya, pendidikan ibu bukan hanya soal jenjang sekolah, tetapi juga tentang bagaimana seorang ibu memahami cara menjaga masa depan anaknya sejak awal kehidupan.(Elfirarm)

Sumber: Riset mahasiswa Kebidanan Umsida & Dosen.

Bertita Terkini

Kupas Tuntas Baby Blues hingga Depresi Saat SPINA 2026
May 4, 2026By
Latih Kompetensi Klinis, FIKES Umsida Gelar OSCE untuk Mahasiswa S1 Kebidanan
February 1, 2026By
Ketua IBI Jatim Tekankan Etika Profesi pada Sumpah Profesi FIKES Umsida
December 18, 2025By
Umsida Bekali Mahasiswa Kebidanan dengan Praktik Pemeriksaan EKG di Rumah Sakit
November 23, 2025By
pembekalan
Siapkan Mahasiswa Profesi Bidan dengan Pembekalan Intensif dan Hybrid Learning
September 29, 2025By
kader posyandu
Kolaborasi ITS dan Umsida Perkuat Peran Kader Posyandu sebagai Garda Terdepan Kesehatan Anak
September 25, 2025By
nyeri postpartum
Manajemen Nyeri Postpartum Lebih Efektif Berkat Health Science Seminar Fikes Umsida
August 30, 2025By
SNIFEST
Perspektif Digital dan Klinis di SNIFEST 2025, Tingkatkan Kolaborasi Multidisiplin untuk Mengatasi TBC
August 23, 2025By

Prestasi

Yuyun Rahma Putri, Ibu Muda yang Menjadi Lulusan Terbaik Profesi Kebidanan Umsida
January 23, 2026By
Cerita di Balik Prestasi Nela Akhmalia, Lulusan Terbaik Kebidanan Umsida
January 12, 2026By
Inovasi Mannequin Akupresur Kebidanan Umsida Menjadi Sorotan di KILab 2025
December 9, 2025By
peneliti
Dua Dosen Kebidanan Umsida Raih Nominasi Peneliti Terbaik Hibah Internal 2024–2025
September 19, 2025By
Mannequin acupressure
Inovasi Mannequin Acupressure LED dan Audio, Kebidanan Umsida Tembus Kilab 2025 Kemdikti Saintek
September 5, 2025By
Kespro
Kespro Disabilitas Jadi Sorotan, Mahasiswa Kebidanan Fikes Umsida Raih Juara 2 Lomba Poster Kesehatan PTMA se-Indonesia
May 7, 2025By
dok istimewah inovasi
Inovasi Laboran Umsida: Manekin Akupresur dengan Indikator LED Lolos Kilab 2024
November 15, 2024By
dok istimewah prestasi
Wisuda dengan Pencapaian Gemilang: Kisah Mahasiswi Kebidanan Umsida dalam Meraih Prestasi Nasional
October 29, 2024By

Riset dan Inovasi

Faktor yang Mempengaruhi Kehamilan, Ternyata Bukan Cuma Soal Fisik
April 13, 2026By
Riset Umsida Ungkap Dampak Psikologis Beban Ibu Saat Anak Mengidap TB
March 30, 2026By
Perawatan Herbal Bisa Jadi Alternatif Atasi Jerawat
March 16, 2026By
Perawatan Luka Persalinan Secara Herbal: Riset Ungkap Manfaat Daun Binahong
March 9, 2026By
Protein Kedelai Bisa Bantu Cegah Gangguan Pertumbuhan Janin, Ini Penjelasannya
March 2, 2026By
Kram Kaki pada Trimester III, Keluhan Normal atau Tanda Gangguan Sirkulasi?
February 23, 2026By
Riset Kebidanan Umsida Ungkap Sering Nyeri Haid,Bisa Jadi karena Anemia
February 16, 2026By
Riset Dosen Kebidanan Umsida Ungkap Peran Usia dalam Keberhasilan Laktasi
February 9, 2026By